Judul: Tea for Two
Pengarang: Clara Ng
Pengarang: Clara Ng
Analisis
Setelah menikah dengan Alan, kebebasan Sassy dalam menjalani hidupnya Sangat dipengaruhi oleh Alan. Alan membatasi ruang gerak Sassy sehingga ia tidak dapat menjadi dirinya sendiri. Sekarang Sassy hanyalah proyeksi dari bentuk seseorang yang Alan inginkan sebagai pendamping hidupnya. Sassy bukanlah Sassy yang dulu yang dapat hidup bebas dan menentukan jalan hidupnya sendiri (eksistensi otentik). Eksistensi Sassy menjadi terbekukan oleh Alan yang selalu menjadikan Sassy sebagai objek yang dapat ia perlakukan sesukanya. Dengan demikian eksistensi Sassy menjadi tidak otentik karena Sassy melakukan segala sesuatu untuk menjalani hidup bukan atas keinginannya sendiri melainkan atas keinginan Alan.
Makian dan siksaan fisik mengisi kehidupan perkawinan Sassy. Gaya kontradiksi Alan selalu berlandaskan rasa sayang yang diiyakan Sassy dengan sikap mengalah. Atau lebih tepatnya, Sassy percaya Alan mencintainya. Digabungkan dengan rasa takut kehilangan, dan kehamilan membuat Sassy enggan bercerai. Hal tersebut membuat Sassy tidak menyadari keadaan rumah tangganya yang sebenarnya sangat jauh dari harmonis. Sassy kehilangan kepercayaan dan kemandiriannya dalam menjalani hidup seperti dulu. Sassy menjadi Sangat tergantung dengan Alan. Kekerasan yang dilakukan Alan selalu ditutupinya dengan kedok kasih sayang yang sebenarnya tidak ada. Kasih sayang seharusnya membiarkan pasangannya menjadi dirinya sendiri dan lebih mengutamakan kebahagiaan pasangannya. Sassy terjebak didalam situasi yang diciptakan Alan, Sassy menjadi terikat dengan situasi itu. Kekerasan yang dilakukan Alan tidak membuatnya menjauh dari Alan melainkan membuat Sassy selalu kembali kepadanya walaupun ia tahu Alan akan menyakitinya lagi.
Ditambah lagi trauma Sassy akan masa lalunya, sewaktu ia masih kecil ayahnya meninggalkan ia dan ibunya tanpa pernah kembali lagi. Hal itu membuat Sassy berusaha dengan keras mempertahankan pernikahannya. Karena ia tidak menginginkan anaknya mengalami hal seperti yang ia alami. Ia merasa tenderita saat ayahnya meninggalakan ia dulu, dimana ia harus menerima ejekan dari teman-temannya karena tidak memiliki ayah.
Ditambah lagi trauma Sassy akan masa lalunya, sewaktu ia masih kecil ayahnya meninggalkan ia dan ibunya tanpa pernah kembali lagi. Hal itu membuat Sassy berusaha dengan keras mempertahankan pernikahannya. Karena ia tidak menginginkan anaknya mengalami hal seperti yang ia alami. Ia merasa tenderita saat ayahnya meninggalakan ia dulu, dimana ia harus menerima ejekan dari teman-temannya karena tidak memiliki ayah.
Kehadiran Emma, nama putrinya, tak mengubah Alan. Bahkan Alan berani ketahuan berselingkuh dengan temannya. Setelah ketahuan selingkuhpun Alan masih berani berkelit dihadapan Sassy, untungnya Sassy ditemani oleh sahabatnya saat bertemu dengan Alan sehingga Sassy dapat mengatasi perasaannya yang lemah untuk kembali kepada Alan berkat dukungan sahabatnya itu.
Pada akhirnya Sassy menyadari kesalahannya bertahan dalam rumah tangga yang sarat akan kekerasan. Dengan dukungan sahabat dan keluarganya, Sassy berhasil keluar dari pernikahannya yang tidak bahagia itu. Sassy menyadari keinginannya untuk kembali kepada Alan bukanlah semata-mata karena ia benar-benar ingin kembali kepada suaminya itu, melainkan karena ia merindukan dirinya yang dulu sebelum ia menjadi istri dari seorang Alan. Ketika pasangan menjadi abusif, ia mengambil bagian yang Sangat besar dari apa yang kita miliki didalam diri kita. Seseorang yang abusif pandai mengeruk dan memaksa pasangannya untuk menyerahkan bagian-bagian itu. Mulanya mungkin kita akan memberikan atas nama cinta Namun lama kelamaan kita terbiasa memberikan itu sehingga rasanya tidak ada yang aneh. Jadi saat berpisah dengan pasangan, sebenarnya kita kehilangan diri kita sendiri yang menjadi tergantung kepadanya karena bagian penting diri kita dimiliki oleh diri pasangan kita. Itulah yang dialami Sassy.

4 komentar:
blognya sudah sangat bagus. dari segi pemilihan font sudah sangat pas, dari pemilihan bahasa yang digunakan juga sudah sangat jelas dan mudah dipahami. namun ada satu istilah yang sedikit kurang kami pahami, yaitu istilah "proyeksi" dlm kalimat "Sekarang Sassy hanyalah proyeksi dari bentuk seseorang yang Alan inginkan sebagai pendamping hidupnya". nah, apakah istilah tersebut memiliki makna sama spt apa yg dibicarakan org2 psikoanalisa atau memang punya makna lainnya?? kami melihat tokoh Sassy sebagai tokoh yang sangat patuh terhadap apa yang diinginkan oleh suaminya walaupun harus mendapat perlakuan agresi dr suaminya. Lantas bagaimana dengan “kekuatan cinta” yg dijelaskan di paragraph terakhir? Kami masih belum menangkap dasar permasalahannya dan siapa yang dianalisis dlm kasus ini, Alan/Sassy? Mohon petunjuknya kalau-kalau kami salah memahami isinya. Trims,,, tetap seuuumangat kawand!!!
By: Ritmi Nurhamidah Ihsan (7039) dan kawan-kawan seperjuangan dalam kelompok aneks.
http://hkatsushika.blogspot.com/
kasus yang menarik untuk di bahas...menggunakan kata-kata yang mudah di mengerti...
menurut kelompok kami tokoh yang dianalisis membingungkan, karena ada dua tokoh yang disebutkan dan dua-duanya kurang tergambarkan dari segi pola pikir dan karakteristiknya.
paragraph terakhir sulit dimengerti karena alasan karena cintanya kurang tergambarkan...
semoga masukan dari kelompok kami bisa sebagai bahan pertimbangan yah teman....tetap kreatif dan kembangkan potensi teman-teman.....
http://psikologianeks.blogspot.com/
Vita,Silmi,Shandyca,Switenia,Vitra
Jadi sebenarnya Sissy ingin tetap bersama dengan suaminya, ingin tetap disiksa oleh suaminya (karena seperti kata kalian, 'merindukan dirinya yang dulu?'), atau justru ia ingin berpisah dan tidak disiksa lagi oleh suaminya. Dari analisis di atas, terasa bahwa Sissy sebenarnya tidak mau berpisah dengan suaminya. Penyelaman mengenai perasaan Sissy dan apa keinginan Sissy sebenarnya mungkin dapat lebih membantu dan memperjelas analisis mengenai novel ini (terutama mengenai Sissy).
menurut saya, siapa tokoh yang dianalisis sudah jelas. dari gambaran penghayatan juga sudah menjelaskan bahwa tokoh Sasy yang dianalisis.
tapi usul dari saya, alangkah baiknya apabila lebih diperdalam pengahayatan Sasy ketika memutuskan untuk bertahan dalam pernikahan dengan siksaan yang diperoleh. hayati yang membuat ia bertahan dan yang membuat ahirnya beralih keputusan.
makasih...mudah-mudahan bermanfaat
miki amrilya w (7029)
Posting Komentar
komentar: